Course Content
Strategi Bauran Pemasaran dan Pengembangan Produk
0/3
Digital Marketing

Ruang Lingkup Daur Hidup Produk

Siklus hidup produk atau product life cycle adalah salah satu komponen penting yang wajib diketahui dan dipahami dengan benar oleh para produsen. Pada dasarnya, konsep nyata dari sebuah siklus hidup adalah suatu proses yang memberikan gambaran proses yang akan dipasarkan. 

  1. Pengertian dan karakteristik daur hidup produk Semua produk tentunya memiliki siklus hidupnya masing-masing. Akan ada masanya suatu produk mengalami puncak penjualan dan secara alamiah akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, produsen harus terus membuat inovasi atau perubahan mengenai produk tersebut guna menghindari titik jenuh konsumen terhadap produk. Adapun kejenuhan siklus hidup produk dibagi menjadi dua, yaitu: a. Kejenuhan eksternal, merupakan kejenuhan yang berasal dari produk itu sendiri yaitu kejenuhan para konsumen terhadap suatu produk yang membosankan karena tidak menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. b. Kejenuhan internal, dirasakan oleh pihak internal perusahaan. Selain pelanggan yang jenuh dengan produk yang diproduksi, para karyawan di suatu perusahaan juga bisa merasa jenuh dikarenakan kurangnya inovasi, target, serta rancangan pekerjaan yang baru dan menantang. 

Terdapat beberapa ahli yang berpendapat tentang siklus hidup produk. Adapun pengertian siklus hidup produk menurut para ahli, antara lain: a. Menurut Kotler (1988), product life cycle atau siklus hidup produk adalah suatu usaha untuk mengenali tahapan yang berbeda dalam sejarah penjualan produk. b. Menurut Tjiptono (1998), product life cycle atau siklus hidup produk adalah suatu grafik yang menggambarkan riwayat suatu produk, sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar. c. Menurut Anderson dan Zeithaml (1984), product life cycle atau siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian tahap dari suatu produk, mulai dari tahap perkenalan (introduction) sampai produk tersebut mulai mengalami penurunan penjualan hingga akhirnya keluar dari pasar (decline). Berdasarkan beberapa pengertian yang sudah dijelaskan di atas, dapat diketahui kriteria siklus hidup produk, antara lain tidak setiap produk melalui semua tahapan, panjang suatu tahap hidup untuk setiap produk sangat bervariasi, dan siklus hidup produk dapat diperpanjang dengan inovasi dan repositioning.

  1. Klasifikasi produk Produk dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis, yaitu berdasarkan wujudnya, aspek daya tahan, dan tujuan konsumsi. Berikut akan dijelaskan masing-masing jenis klasifikasi produk.   a. Berdasarkan wujudnya Adapun jenis produk berdasarkan wujudnya dapat dibedakan menjadi beberapa produk sebaga berikut.

1) Barang Perusahaan, dalam usaha memenuhi permintaan konsumen menghasilkan suatu produk lain. Kepuasan akan dirasakan oleh konsumen yang menggunakan barang tersebut bahkan berupa barang dengan karakteristik tertentu, seperti penampilan, ukuran, berat, dan lain. Kepuasan akan dirasakan oleh konsumen yang menggunakan barang tersebut bahkan menggunakan beberapa kali sampai nilai guna barang habis. Namun terdapat barang yang hanya bisa digunakan sekali, contohnya makanan dan masker medis. Untuk menghasilkan produk/barang dengan kualitas yang identik dengan barang/produk yang sudah beredar maka perusahaan perlu melalui quality control yang ketat. Berikut ciri-ciri dari barang.     a) Nilai atau manfaat bisa dirasakan saat itu juga. b) Penggunaannya akan menyebabkan nilai dan manfaat berkurang atau habis.     c) Memiliki wujud.

2) Jasa Jasa merupakan produk tidak memiliki wujud fisik, umumnya berbentuk layanan. Jasa merupakan suatu produk yang ditujukan kepada konsumen sebagai pengguna jasa/ layanan, dan fokus utamanya konsumen itu sendiri. Berikut contoh dari produk jasa yang perkembangannya cukup pesat. a) Administrasi umum seperti pendidikan dan pemerintah. b) Layanan infrastruktur seperti komunikasi dan transportasi. c) Layanan pribadi/sosial seperti restoran dan perawatan kesehatan d) Perdagangan jasa seperti pedagang eceran, pemeliharaan, dan perbaikan. e) Layanan bisnis seperti konsultasi, keuangan, dan perbankan.

b. Berdasarkan aspek daya tahan Dilihat dari aspek daya tahannya produk dapat dibagi menjadi dua, sebagai berikut.   1) Produk tidak tahan lama Adapun produk tidak tahan lama merupakan suatu barang berwujud yang durasi pemakaiannya akan habis ketika digunakan beberapa kali pemakaian dan dengan melihat umur ekonomis dari barang tersebut tentunya. Contoh produk tidak tahan lama adalah sabun mandi, sabun cuci piring, sampo, minuman kaleng/botol, dan sebagainya. 2) Produk tahan lama Produk tahan lama merupakan suatu produk yang memiliki nilai ekonomis pemakaian normalnya lebih dari satu tahun. Contohnya lemari es, mesin cuci, kipas angin, televisi, dan sebagainya.

c. Produk berdasarkan tujuan konsumsi Berdasarkan tujuan konsumsinya produk dibagi menjadi dua kelompok, sebagai berikut.  

1) Produk konsumsi (consumers good) Produk konsumsi (consumers good) merupakan suatu produk yang dapat secara langsung dirasakan manfaatnya tanpa harus memroses terlebih dahulu barang yang dibeli. Adapun barang konsumsi dapat dibedakan menjadi tiga jenis barang konsumsi, yakni: a) Convenience goods ialah barang-barang yang biasanya dibeli oleh konsumen secara sering atau kadang-kadang dan dengan pengorbanan/usaha yang minimum di dalam membandingkan/memilih dan membelinya.

b) Shopping goods (barang belanjaan) Shopping goods (barang belanjaan) merupakan barang yang pembeliannya perlu dipertimbangkan, harga relatif mahal, perbandingan mutu, dan lain-lain. Misalnya mobil, motor, peralatan rumah tangga, dan pakaian. Konsumen bersedia untuk membuang waktunya hanya untuk memilih dari macam-macam barang tersebut. Contohnya pakaian jadi, tekstil, jeans, sepatu, tas, kacamata, dan lain-lain.

c) Speciality goods (barang khusus) Merupakan barang dengan ciri khas yang mampu menarik konsumen dalam berbelanja, ciri-ciri dari barang spesial, antara lain:

(1) Barang-barang yang dibeli atas dasar suatu merek/brand tertentu, konsumen biasanya terpengaruh oleh ciri khas dari barang yang telah diiklankan sebelumnya. (2) Harganya relatif lebih tinggi. Produsen dari kelompok ini sangat tergantung kepada dealer yang akan membeli.

d) Unsought goods (barang yang tidak dicari) Merupakan barang yang tidak diketahui atau diketahui konsumen, namun secara normal tidak berpikir untuk membelinya, misalnya asuransi Jiwa, batu nisan, dan tanah kuburan.

2) Barang industri (industrial goods) Konsumen atau pembeli dari barang-barang ini adalah perusahaan, lembaga, organisasi termasuk organisasi nonprofit atau organisasi yang tidak berorientasi mencari laba. Berikut merupakan penggolongan barang industri. a) Barang modal, barang-barang yang sebagian masuk ke hasil barang jadi akhir. Barang ini meliputi: (1) Instalasi, yaitu alat produksi utama dalam sebuah pabrik atau perusahaan yang dapat digunakan untuk jangka panjang, misalnya tangga berjalan, komputer, generator, dan mesin bor. (2) Peralatan ekstra (tambahan), yaitu alat-alat yang dipakai untuk membantu instalasi. Peralatan ini terdiri atas peralatan pabrik dan perkakas yang mudah dibawa, misalnya perkakas tangan dan alat pengungkit. Peralatan ekstra juga meliputi peralatan kantor, misalnya mesin tik, mesin teleks, dan meja kantor.

b) Pembekalan dan pelayanan (supplies and services), merupakan barang-barang tidak tahan lama dan jasa yang memberikan kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola keseluruhan produk jadi.

(1) Pembekalan operasional, misalnya batu bara, pita mesin tik, tinta printer, dan minyak pelumas. (2) Jasa nasihat bisnis, konsultasi bisnis manajemen, dan biro iklan. c) Bahan dan suku cadang, barang-barang yang seluruhnya masuk dalam produk jadi, antara lain: (1) Bahan baku, meliputi barang hasil pertanian, yaitu barang yang dihasilkan dari proses pengolahan tanah dan tanaman, misalnya beras, kapas, ternak, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Dari hasil alam, misalnya kayu, minyak bumi, bijih besi, dan sebagainya.   (2) Bahan jadi dan suku cadang, meliputi bahan komponen, umumnya masih diolah kembali, misalnya benang menjadi kain.

  1. Unsur dan komponen produk Menurut Fandy Tjiptono, atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan suatu dasar pengambilan keputusan pembelian. Adapun atribut produk memiliki unsur-unsur, sebagai berikut.

a. Merek Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol/lambang, desain, warna, gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing.

b. Kualitas produk Kualitas produk merupakan salah satu sarana positioning utama untuk pemasar. Kualitas akan memiliki dampak langsung terhadap kinerja produk. Berkaitan dengan hal tersebut, kualitas berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan.

c. Fitur produk Fitur merupakan sarana kompetitif untuk mendiferensiasikan produk perusahaan dari produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang memperkenalkan fitur baru yang bernilai merupakan salah satu cara paling efektif untuk bersaing.

d. Gaya dan desain produk Desain mempunyai konsep yang lebih luas daripada gaya (style). Selain mempertimbangkan faktor penampilan, desain juga bertujuan untuk memperbaiki kinerja produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah keunggulan bersaing. Adapun cara lain untuk menambah nilai konsumen adalah melalui desain atau rancangan produk yang berbeda dengan yang lain.

e. Kemasan Pengemasan (packaging) adalah proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper) untuk suatu produk. Adapun tujuan penggunaan kemasan, sebagai berikut. 1) Sebagai identitas (image) produk. 2) Memberikan daya tarik (promotion). 3) Bermanfaat dalam pemakaian ulang (rausable). 4) Kemasan sebagai pelindung isi (protection). 5) Untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan (operating). 6) Distribusi (shipping). 7) Informasi (labelling). 8) Sebagai cermin inovasi produk, berkaitan dengan kemajuan teknologi dan daur ulang.

f. Label Label memiliki beberapa fungsi, setidaknya label menunjukkan produk atau merek. Label juga menggambarkan beberapa hal tentang produk yaitu siapa yang membuatnya, di mana dan kapan produk itu dibuat, kandungannya, dan cara menggunakan produk tersebut dengan aman. Berikut merupakan tiga pembagian label secara garis besar. 1) Brand label, yaitu nama merek yang diberikan pada produk atau dicantumkan pada kemasan. 2) Descriptive label, yaitu label yang memberikan informasi objektif mengenai penggunaan, konstruksi/pembuatan, perawatan/perhatian, kinerja produk, dan karakteristik-karakteristik lainnya yang berkaitan dengan produk. 3) Grade label, yaitu label yang mengidentifikasi penilaian kualitas produk dengan suatu huruf, angka, atau kata. Di negara Amerika memberikan nama produk dengan label masing-masing produk, misalnya buah persik dalam kaleng diberi label kualitas A, B, dan C, sedangkan jagung dan gandum diberi label 1 dan 2.

g. Pelayanan pendukung produk Produk inti umumnya sangat bervariasi antara tipe bisnis yang satu dengan tipe yang lain, tetapi layanan pelengkapnya memiliki kesamaan. Layanan pelengkap dapat diklasifikasikan menjadi delapan kelompok, sebagai berikut. 1) Informasi, misalnya jalan atau arah, jadwal penyampaian produk/jasa, harga, peringatan, instruksi mengenai cara menggunakan produk inti atau layanan pelengkap, kondisi penjualan/ layanan, pemberitahuan adanya perubahan, dokumentasi, konfirmasi reservasi, rekapitulasi rekening, tanda terima, dan tiket. 2) Konsultasi, seperti pemberian saran, konseling pribadi, dan konsultasi manajemen/teknis. 3) Order taking, meliputi aplikasi, order entry, dan reservasi. 4) Hospitality, di antaranya sambutan, food and beverages, toilet dan kamar kecil, transportasi, serta sekuriti. 5) Caretaking, terdiri dari perhatian dan perlindungan terhadap barang atas barang milik pelanggan yang mereka bawa (parkir kendaraan, penanganan bagasi, titipan tas, dan lainnya), serta perhatian dan perlindungan atas barang yang dibeli konsumen (pengemasan, transportasi, dan lainnya). 6) Expectation, meliputi permintaan khusus sebelum penyampaian produk, menangani komplain/pujian/saran, pemecahan masalah, kesulitan yang muncul dari pemakaian produk, dan restitusi (pengembalian uang, kompensasi, dan sebagainya). 7) Billing, meliputi laporan rekening periodik, faktur untuk transaksi individual, mesin yang memperlihatkan jumlah rekening, dan self-billing. 8) Pembayaran, berupa pelanggan berinteraksi dengan personel perusahaan yang menerima pembayaran, pengurangan otomatis atas rekening pelanggan, serta kontrol dan verifikasi.

4. Tingkatan produk

Menurut Kotler dan Armstrong, para pemasar perlu berpikir melalui lima tingkatan produk dalam merencanakan penawaran pasar. Lima tingkatan produk tersebut, terdiri atas: a. Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat fundamental yang benar-benar dibeli oleh pelanggan. b. Produk dasar (basic product). Dalam hal ini para pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk generik (generic product), yaitu versi dasar dari produk tersebut. C. Produk yang diharapkan (expected product), yaitu serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-kondisi yang diharapkan oleh pembeli pada saat membeli suatu produk. d. Produk yang ditingkatkan (augmented product). Layanan dan manfaat tambahan yang membedakan penawaran perusahaan dari penawaran pesaing. e. Produk yang potensial, yaitu semua argumentasi dan perubahan bentuk yang dialami oleh suatu produk di masa yang akan datang.

5. Kualitas produk Menurut Gaspersz (2008) dimensi kualitas produk, yaitu:

a Daya tahan (durability) Daya tahan berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan dan dapat didefinisikan sebagai suatu ukuran usia operasi produk yang diharapkan dalam kondisi normal. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk, maka semakin besar pula daya tahan produk.

b. Estetika (aesthethics) Estetika adalah keindahan produk terhadap pancaindra dan dapat didefinisikan sebagai atribut- atribut yang melekat pada sebuah produk, seperti warna, model atau desain, bentuk, rasa, aroma, dan lain-lain. Pada dasarnya aesthetics merupakan elemen yang melengkapi fungsi dasar suatu produk, sehingga kinerja sebuah produk akan menjadi lebih baik di hadapan konsumen.    

c. Kinerja (performance) Kinerja adalah karakteristik operasi pokok dari produk inti dan dapat didefinisikan sebagai tampilan dari sebuah produk sesungguhnya. Performance sebuah produk merupakan pencerminan bagaimana sebuah produk itu disajikan atau ditampilkan kepada konsumen. Tingkat pengukuran performance pada dasarnya mengacu pada tingkat karakteristik dasar produk itu beroperasi. Sebuah produk dikatakan memiliki performance yang baik bilamana dapat memenuhi harapan. Bagi setiap produk/jasa, dimensi performance bisa berlainan, tergantung pada functional value yang dijanjikan oleh perusahaan. Untuk bisnis makanan, dimensi performance adalah rasa yang enak.

d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications) Kesesuaian adalah sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya dan dapat didefinisikan sebagai tingkat di mana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi sasaran yang dijanjikan. Artinya tingkat conformance sebuah produk dikatakan telah akurat bilamana produk-produk yang dipasarkan oleh produsen telah sesuai perencanaan perusahaan, yang berarti merupakan produk-produk yang mayoritas diinginkan konsumen.

e. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) Kualitas yang dipersepsikan merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya.

f. Keandalan (reliability) Keandalan adalah tingkat keandalan suatu produk atau konsistensi keandalan sebuah produk di dalam proses operasionalnya di mata konsumen. Reliability sebuah produk juga merupakan ukuran kemungkinan suatu produk tidak akan rusak atau gagal dalam suatu periode waktu tertentu. Sebuah produk dikatakan memiliki reliability yang tinggi bilamana dapat menarik kepercayaan dari konsumen terkait kualitas keandalan sebuah produk. Dimensi performance dan reliability sekilas hampir sama tetapi mempunyai perbedaan yang jelas. Reliability lebih menunjukkan probabilitas produk dalam menjalankan fungsinya.

g. Keistimewaan tambahan (feature) Keistimewaan adalah karakteristik sekunder atau pelengkap dan dapat didefinisikan sebagai tingkat kelengkapan atribut-atribut yang ada pada sebuah produk. Pada titik tertentu, performance dari setiap merek hampir sama tetapi justru perbedaannya terletak pada fiturnya. Ini juga mengakibatkan harapan konsumen terhadap dimensi performance relatif homogen dan harapan terhadap fitur relatif heterogen.

h. Kemampuan melayani (service ability) Kemampuan melayani meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan dan dapat didefinisikan sebagai suatu ukuran kemudahan memperbaiki suatu produk yang rusak atau gagal. Artinya, bilamana sebuah produk rusak atau gagal maka kesiapan perbaikan produk tersebut dapat diandalkan, sehingga konsumen tidak merasa dirugikan.