Memahami Daur Hidup Produk
Perputaran produk lebih dikenal dengan istilah siklus hidup produk. Di mana siklus produk umumnya ditentukan dari berapa lama produk dapat dipasarkan.
1. Tahap-tahap dalam siklus kehidupan produk Beberapa tahap untuk siklus kehidupan suatu produk dalam bauran pemasaran, antara lain:
a. Tahap perkenalan Di tahap ini, umumnya keuntungan perusahaan masih kecil, sebab biaya promosinya sangat besar, karena masyarakat belum terlalu mengenal produk tersebut. b. Tahap pertumbuhan Pada tahap ini, semua alat pemasaran dapat dikurangi peranannya karena permintaan dapat bergerak melalui cerita dari mulut ke mulut. c. Tahap kemampuan Pada tahap ini, suatu pemasaran penjualan, periklanan, dan penjualan perorangan semakin dibutuhkan sesuai dengan urutannya. d. Tahap penurunan Dalam tahap ini, suatu pemasaran penjualan tetap terjaga dengan kuat. Sementara itu, untuk publisitas dan juga periklanan akan dikurangi dan melakukan inovasi baru dalam produk tersebut.
2, Pengukuran daur hidup produk Dalam melakukan manajemen daur hidup produk diperlukan suatu perencanaan yang cermat secara mendalam mengenai karakteristik daur hidup produk. Adapun tahapan daur hidup produk dapat ditentukan dengan melakukan identifikasi status sebagai berikut. a. Market volume, pada umumnya digunakan untuk menunjukkan unit yang digunakan dalam menghindari distorsi. Distorsi dapat muncul akibat terdapat perubahan harga. b. Rate of change of market volume, merupakan cara yang lebih kompleks dan untuk menunjukan tingkat pertumbuhan. Hal ini karena sebagian konsumen sudah dapat memahami tingkat pertumbuhan yang bersifat negatif. c. Profit/loss, profit umumnya digunakan untuk menggambarkan perbedaan pada pendapatan total dan biaya total yang terdapat disetiap titik waktu.
3. Tahap daur hidup produk Umumnya setiap produk memiliki waktu daur hidup yang berbeda, karena setiap konsumen pasti memiliki sebuah titik jenuh. Beberapa titik jenuh disebabkan karena pelayanan yang kurang, distribusi yang telat, ketidaksesuaian produk dengan ekspektasi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
a. Tahap perkenalan (introduction) Pada tahap ini barang yang dijual umumnya barang baru (betul-betul baru) karena masih berada pada tahap permulaan. Adapun ciri-ciri tahap perkenalan produk, sebagai berikut.
1) Cash flow negatif.
2) Produk baru diluncurkan ke pasar.
3) Distributor berkemungkinan enggan untuk mengambil produk yang masih belum terbukti kualitasnya.
4) Omzet penjualan yang masih rendah.
5) Kapasitas produksi masih rendah.
6) Diperlukannya promosi secara besar-besaran dalam rangka memperkenalkan produknya sehingga biaya promosi sangat tinggi.
7) Biaya per unit yang masih tinggi.
Kesulitan yang mungkin terjadi pada tahap ini adalah hanya sedikit penjual yang memiliki daya dan kemampuan untuk meluncurkan produk baru dan harga awal produk juga tinggi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memperkenalkan produk. Berikut beberapa strategi pemasaran yang bisa diterapkan dalam tahap perkenalan produk. 1) Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy) merupakan peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Cara ini biasanya dilakukan untuk mempercepat laju penerobosan pasar. Keberhasilan strategi ini akan terwujud jika terdapat hal-hal berikut. a) Konsumen bersedia membayar pada harga berapa pun. b) Perusahaan menghadapi persaingan potensial serta ingin membangun preferensi pada mereknya. c) Sebagian besar pasar belum mengetahui keberadaan produk.
2) Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy) merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Strategi ini akan berhasil jika terdapat beberapa hal, sebagai berikut. a) Konsumen mau membeli dengan harga tinggi. b) Pesaing potensial belum muncul. c) Besarnya pasar terbatas.
3) Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy) merupakan peluncuran produk baru pada harga rendah dengan biaya promosi yang besar. Tujuan dari strategi ini adalah untuk memperoleh penerimaan pasar yang cepat dan memperoleh pangsa pasar yang besar. Strategi ini akan berhasil jika pasar sangat luas, konsumen belum mengetahui keberadaan produk, konsumen sangat peka terhadap harga, dan terdapat indikasi persaingan potensial yang besar.
4) Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy) merupakan peluncuran produk baru dengan harga rendah dan tingkat promosi yang rendah. Keberhasilan strategi ini biasanya harus didukung dengan pasar yang sangat luas, konsumen mengetahui keberadaan produk, konsumen peka terhadap harga, dan persaingan potensial sangat rendah.
b. Tahap pertumbuhan (growth) Tahap pertumbuhan merupakan suatu periode peningkatan pertumbuhan penjualan yang sangat cepat.
Berikut ciri-ciri tahap pertumbuhan.
1) Omzet penjualan mengalami kenaikan yang signifikan.
2) Pasar semakin berkembang, laba meningkat, namun pesaing-pesaing baru mulai bermunculan.
3) Memperluas pasar.
4) Produk mulai diterima oleh pasar.
5) Meningkatnya kapasitas produksi.
6) Cash flow mulai berubah menjadi positif.
7) Biaya per unit akan turun ke skala yang ekonomis.
Tahap pertumbuhan dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pertumbuhan cepat dan pertumbuhan lambat. Strategi pemasaran yang dapat dilakukan perusahaan pada tahap pertumbuhan ini, di antaranya:
1) Meningkatkan kualitas produk dan menambah keistimewaan produk baru.
2) Mencari segmen baru.
3) Mencari saluran distribusi baru.
4) Melakukan promosi melalui iklan untuk meyakinkan pembeli tentang kualitas produk tersebut.
c. Tahap kedewasaan (maturity) Tahap kedewasaan merupakan suatu periode penurunan dalam pertumbuhan pasar karena produk telah diterima oleh sebagian pasar potensial. Tahap ini ditandai dengan tercapainya titik tertinggi dalam penjualan dan biasanya merupakan tahap terlama dalam siklus hidup produk. Tahap kedewasaan dibagi menjadi tiga fase, sebagai berikut.
1) Kedewasaan pertumbuhan (growth maturity), artinya tingkat penjualan tidak bertumbuh dan tidak ada saluran distribusi baru karena distribusi yang ada sudah dianggap dewasa.
2) Kedewasaan stabil (stable maturity), yaitu penjualan menjadi mendatar yang disebabkan oleh jenuhnya pasar. Sebagian konsumen potensial telah mencoba produk baru yang ditawarkan perusahaan.
3) Kedewasaan menurun atau mengusang (decaying maturity), yaitu penjualan mulai menurun dan konsumen mulai bergerak ke produk lain atau produk substitusi.
Berikut ciri-ciri tahap kedewasaan. 1) Harga produk mulai turun. 2) Kapasitas produksi yang tinggi. 3) Memiliki laba yang besar bagi mereka yang dapat memimpin pasar. 4) Cash flow berada dalam kondisi positif yang kuat. 5) Pesaing yang lemah dan kalah bersaing akan mulai keluar dari pasar.
Untuk mempertahankan pangsa pasar melakukan strategi pemasaran, sebagai berikut. 1) Memodifikasi pasar Strategi ini dapat dilakukan dengan mencari pembeli dan segmen baru, menaikkan penggunaan, dan memperbaiki kembali posisi merek. 2) Memodifikasi produk Strategi ini dapat dilakukan dengan perbaikan kualitas, tampilan fisik (feature), dan perbaikan style atau corak. 3) Memodifikasi bauran pemasaran
Strategi ini dapat dilakukan dengan menurunkan harga dan promosi yang lebih agresif. Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan take off strategi dalam tahap kedewasaan yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru dan strategi ini dapat memperbarui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.
d. Tahap penurunan (decline) Pada tahap ini, penjualan mengalami penurunan karena produk tersebut sampai pada titik kejenuhan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penurunan penjualan, sebagai berikut. 1) Meningkatnya persaingan dalam negeri dan luar negeri. 2) Perkembangan teknologi. 3) Pergeseran selera konsumen.
Tahap penurunan memiliki ciri-ciri, sebagai berikut. Pendidikan Antikorupsi
1) Akan banyak pesaing-pesaing yang keluar dari pasar. 2) Kapasitas produksi akan menurun. 3) Laba turun secara signifikan. 4) Cash flow melemah. 5) Pasar menjadi jenuh.
Pada tahap akhir siklus hidup produk terdapat beberapa alternatif yang dapat dilakukan, antara lain:
1) Mengurangi investasi perusahaan secara selektif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan, tetapi menambah investasi untuk kelompok kecil konsumen yang masih setia dan menguntungkan.
2) Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk.
3) Mencari pasar baru.
4) Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai dengan cepat. 5) Meningkatkan investasi perusahaan (untuk mendominasi atau memperkuat posisi persaingannya).
6) Melepaskan bisnis itu secepatnya dengan menjual asetnya sehingga mendapatkan keuntungan.
7) Mempertahankan tingkat investasi perusahaan sampai ketidakpastian tentang industri itu diselesaikan.
Terdapat berbagai strategi yang biasa digunakan dalam tahap penurunan. Beberapa strategitersebut, antara lain:
1) Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
2) Meninjau kembali dan memperbaiki program pemasaran serta program produksinya agar lebih efisien.
3) Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang sudah ada.
4) Menghilangkan ukuran, model, dan warna yang kurang menarik.
5) Melakukan promosi untuk mempertahankan pelanggan yang setia.
6) Menurunkan harga untuk menjaga daya saingnya.
7) Mempersempit saluran distribusi.